Sabtu, 02 Mei 2009

Perdagangan orangutan makin marak dan tidak ada indikasi penurunan. Jika masih dibiarkan seperti saat ini, hal tersebut dapat menyebabkan populasinya terus menurun hingga terancam punah.
Tidak ada tekanan untuk mengatasi pelaku kriminal tersebut. Jika tertangkap tak dihukum. Indonesia yang merupakan habitat terbesar orangutan memiliki hukum yang memadai untuk mencegah perdagangan orangutan. Namun belum dilakukan penegakan hukum yang kuat.
"Tanpa hukuman yang setimpal, perdagangan ilegal akan terus berlangsung dan spesies tersebut akan makin mendekati ambang kepunahan,".
perdagangan orangutan dalam dekade terakhir lebih besar dari dekade sebelumnya. Orangutan sumatera (Pongo pygmaeus ) paling banyak diperdagangkan dibandingkan spesies lain dari Kalimantan.
Di tahun 1990-an, rata-rata populasi orangutan berkurang sekitar 1.000 ekor orangutan setiap tahun. Secara keseluruhan populasinya turun 80 persen dalam 75 tahun terakhir. Saat ini jumlah orangutan di habitat alaminya diperkirakan tinggal tersisa 7.000 ekor.
Di samping diperjualbelikan, orangutan juga mengalami pengusiran secara paksa , bahkan pembunuhan secara missal akibat kerakusan manusia dalam membuka lahan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan.
Hampir empat kali dalam sebulan Tim Rescue pada Proyek Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah maupun Wanariset (Kalimantan Timur) harus menyelamatkan sejumlah orangutan yang tersesat di perkebunan sawit yang baru di buka. Perkebunan itu mendekati hutan habitat orangutan itu berada.
Tim Rescue, biasanya ditelepon oleh pihak perusahaan perkebunan atau masyarakat. Karena mereka melihat orangutan yang tersesat di perkebunan itu mulai memakan daun sawit atau ladang milik masyarakat. Namun kondisi orangutan yang akan diselamatkan Tim Rescue juga tidak semulus yang dibayangkan. Begitu mereka sudah sampai tempat yang dimaksud, ada beberapa orangutan sudah terbunuh terpotong-potong begitu saja. Ada juga yang mengalami patah tulang kaki atau tangan. Biasanya ini terjadi pada orangutan yang masih bayi. Bahkan beberapa di antaranya di kubur hidup-hidup karena berusaha melawan ketika akan ditangkap oleh karyawan perkebunan atau masyarakat sekitar yang menganggap orangutan sebagai ”hama” yang merusak perkebunan sawit.
Beberapa orangutan, ada yang dibakar hingga tewas ketika orangutan tersebut akan menyerang salah seorang yang berkegiatan membuka lahan untuk perkebunan sawit yang baru dibuka. Orang itu terpaksa diserang orangutan yang marah ketika melihat pohon yang dijadikan tempat sarang tinggalnya tengah ditebang oleh orang itu. Memang sudah menjadi kebiasaan, ketika akan mendirikan perkebunan kelapa sawit yang luas, mereka akan memotong dan membakar lahan atau hutan (slash and burn). Sehingga dampaknya langsung terasa pada komunitas orangutan yang ada.
Hingga kini Tim Rescue Nyaru Menteng, masih harus melakukan penyelamatan orangutan. Terlebih sejak makin maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit yang baru. Kadang perkebunan sawit itu di buka mengelilingi hutan rimba tempat habitat orangutan itu berada. Mencerminkan tata ruang wilayah yang kurang begitu baik.
Kebakaran hutan di Kalteng maupun Kaltim, terutama yang terjadi pada tahun 1997-1998, telah meluluhlantakkan semua keragamanhayati yang ada di dalam hutan rimba. Tentu saja masalah ini juga membuat sejumlah orangutan liar mati karena hangus terbakar atau mengalami luka bakar yang amat parah. Akibat kebakaran itu sendiri, membuat sejumlah pohon buah yang menjadi menu utama orangutan ikut terbakar, sehingga orangutan kini mulai sulit mencari makanan.
Kebakaran ini terjadi bukan karena fenomena alami musim kemarau, tetapi lebih banyak dipicu oleh ulah manusia sendiri. Kebakaran lebih banyak disebabkan cara potong dan bakar pada lahan (hutan gambut). Hal ini menjadi meluas ketika kekeringan luar biasa terjadi.
Pemakaian cara potong dan bakar juga menyebabkan lumut dan batu bara yang terdapat di bawah tanah menyala secara spontan. Hal ini juga semakin memperluas kebakaran hutan sehingga semakin buruk lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar